MEMAAFKAN

MEMAAFKAN

Ketika  saya membacakata renungan dalam ketenangan batindari master ZENG YAN kemarin, terdapat sepatah kalimat didalam handbook tersebut, …..
memaafkan orang lain adalah sikap baik terhadap diri sendiri “ …….. membuat saya membacanya berulang-kali. Teringat dahulu ketika saya memarahi orang lain, setiap memarahinya, terasa kalut dan gelisah dalam hati, tak ada manfaatnya. Demikian berlanjut kesal beberapa hari, tak ada yang diperoleh samasekali dari kemarahan itu. 

Sekarang saya merasakan kalimat yang dikatakan master ZENG YAN tadi sangat masuk akal.  Jika saja semua orang dapat mengerti arti dari kalimat ini, maka betapa indahnya dunia ini! dahulu Aku berhati  sempit, gampang marah, hanya karena hal sepele bisa marah dalam hati, sangat tidak nyaman.

Teringat waktu di SMP III, saya marah dengan teman akrab saya hanya karena masalah sepele, padahal itu masalah kecil, karena dia berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler, setiap hari sibuk. Setiap kali saya mengajaknya keluar untuk bermain, dia selalu mengatakan tak ada waktu, saya merasa saya telah dilupakan, jadi saya tidak balas kembali smsnya, tidak menerima telepon darinya, bahkan di sekolahpun saya cuek padanya. Dalam hati saya dipenuhi dengan komplen, rasa ketidak puasan terhadap dia, diri saya sendiri rasanya tidak gembira.

Hari ini saya membaca Firman Guru, saya menyadari bahwa sikap masa lalu itu sangat naif. Aku tahu aku salah, tapi aku juga tahu bahwa kesalahan saya sebelumnya adalah bahwa saya memiliki temperamen buruk.  Sekarang pikir kembali, saya harus merubah dan membuka lembaran baru, bila sikap menghadapi orang lain dan humas tetap dengan kepribadian sebelumnya yang terbentuk, maka saya bakal selalu terbentur sana sini. Itu Karena sikap  saya di masa lalu dalam humas selalu berpusat pada diri sendiri, egois, terlepas dari apa yang orang lain pikirkan. akibatnya hanya membuat rasa marah merusak diri sendiri,  juga menyebabkan orang lain benci saya. Sungguh merugikan.

Pada malam pesta perpisahan, saya mencoba menjembatani dengan bercakap-cakap dengannya, ternyata kedua bunga hati mekar terbuka, ah! alangkah menyenangkan! Saya minta maaf padanya, ketenangan hati langsung terasa luar biasa, semenjak itu saya selalu memakai Firman ini sebagai motto. sesungguhnya teman saya ini sangat toleran. Jika saja kehilangan seorang teman baik seperti dia, aku akan menyesal seumur hidup!

Sekarang yang paling penting bagi saya adalah tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. masa lalu, biarkanlah berlalu, saya ingin kesalahan ini menjadi cermin, bahwa memaafkan orang lain bukan saja  baik kepada orang lain, memahami dia, tetapi juga memperlakukan baik terhadap diri sendiri. Setelah memaafkan orang lain, hati kita akan merasakan lapang dan harmoni, gembira menyikapi berbagai masalah hidup. bukankah ini suatu pilihan sikap hidup yang baik?

Mulai sekarang, tidak peduli siapa yang salah, saya harus belajar me- maafkannya. Karena dengan demikian batin saya baru bisa rilek dan tenang. Orang yang dimaafkan, juga akan hidup bersama dengan rasa sukacita,  saling memaafkan antara Sesama insan, saling memperoleh kenyamanan dan keasyikan, tak bedanya batin kita memperoleh pijat- an releksasi, sungguh merupakan hal menyenangkan dalam hidup. Me- ngapa tak melakukan dengan senang hati?

 

Sumber: harian guo-ji-re-bao. Penulis: Clara Alverina. diterjemahkan oleh: AK.Chandra

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Loading...