YIN-YANG DAN SIKLUS JIWA [3]

Syarat  pokok  pembentukan nyawa, membutuhkan dua kali proses perkawinan silang. . . . . . . . . .

Jasad pra-lahir dari tubuh manusia, terhitung mulai dari sperma [inti] bertemu dengan indung telur ibu, adalah awal mula dari dunia yin.

Perkembangan janin dalam rahim sesuai dengan peran “bibit” sang ayah [ Yang] dengan  faktor-faktor biologis dari yang dan proses dalam masa perkembangan janin menentukan fisik orang setelah ia lahir.

Ketika sang bayi lahir, tubuh yin menyatu  dengan hawa yang diudara bebas. Sebagai proses kedua kali menerima “bibit”. Setelah tubuh [yin] menerima suntikan hawa yang. Barulah bayi yang lahir bisa hidup dan bertumbuh. Bila tidak, maka bayi yang baru keluar dari perut sang ibu akan meninggal. “perkawinan” ditahap ini baru merupakan permulaan dari  perjalanan hidup seseorang   yang sebenarnya didunia yang .

Oleh sebab itu, jasad yang dipersiapkan oleh orang tua yang bersifat merdeka  perlu menyatu dengan yang dari udara bebas.. perpaduan ini barulah dapat dikatakan bahwa “saya” telah lahir didunia. Yaitu, saya (yang) menumpang tubuh (yin)  sehingga  dapat berwujud dan tampak di dunia. Dalam pengertian beberapa paham tertentu, disebut “reinkanasi”.

Berdasarkan pemahaman ini, maka eksistensi manusia adalah berasal dari yang dimana berfungsi pada yin. Lalu hidup dalam dunia yin-yang.

Selanjutnya, orang setelah tumbuh dewasa dan menikah, mengulangi proses seperti perkawinan ibu dan ayahnya , sudah merupakan pengembang biak untuk kehidupan yang lain lagi.

Setiap kelahiran satu nyawa manapun, pada awalnya melalui  persetubuhan antara pria dan wanita, sebagai proses perkawinan/ penyatuan dalam dunia yin, ( pembentukan sektor materi ). Kemudian baru penyatuan di dunia yang.  ( sektor ilahi ) yaitu hawa yang masuk ke tubuh yin, atau perkawinan dalam dunia yang .

Pada umumnya orang hanya mengenal adanya proses persetubuhan antara pria dengan  wanita yang merupakan proses perpaduan  fisik untuk membentuk “kehidupan”, memperoleh  pengetahuan tentang jiwa dengan usaha pengamatan perspektif melalui sudut pandang materi. Tapi tidak tahu masih ada sisi “tiada”, sisi proses perkawinan dunia yang dimana tak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pada dunia yin, Perkawinan adalah sperma sang pria yang disuntik ke ovarium wanita. Perkawinan Pada dunia yang, adalah saat bayi baru lahir, Penyuntikan konsenterat  / pemusatan hawa dari ruang bebas yang bereaksi terhadap sang bayi. ( bayi bereaksi dengan berteriak dan nangis ).

born_alive_infant-240x157

Ketika disaat bayi lahir ke dunia menyerap hawa konsenterat, fungsi organ seluruh badan mulai beraksi,

Hawa yang konsenterat mewakili kondisi dan letak dari ruang dan waktu pada saat itu dan tempat itu. Berbagai faktor referensi ini [ tahun,bulan,hari,jam,dll] mulai dari saat inipun melekat terukir dalam tubuh, menjadi satu set formula pengembang bagi perjalanan hidup seseorang di kemudian hari.  Tepatnya disebut sandi takdir dan nasib. Ia menjadi pedoman dasar /cetak biru dari nyawa seseorang.  

Selanjutnya, tubuh bayi mulai menguai, seperti proses install program komputer, sedang menjalankan proses set-up. Sandi takdir dan nasib mirip seperti sofware program komputer nyawa. Disebut takdir atau image miniatur. Maka siklus nyawa manusia mengikuti takdir masing-masing ,berkolaborasi dengan persyaratan dan kondisi yang tampil menurut pergeseran ruang dan waktu, memainkan pertunjukan aneka ragam dan berbagai macam kehidupan orang.  

Pengaruh Perkawinan dunia yang mengarah ke segmen paska lahir manusia. Paska lahir mengembangkan hawa yang yang telah diadopsi ke dalam tubuh yin. Segmen yang tampil dipermukaan adalah bagian spirit, pemikiran, bakat, kharisma, temperamen, potensi, kreatif, dll dari orang yang bersangkutan. Hawa yang yang masuk menempati tubuh ini barulah merupakan [roh] manusia yang sebenarnya. Sedangkan tubuh [yin] hanyalah sebuah hardware yang kaku yang ditumpangi, hawa yang inilah merupakan master /pemilik dari tubuh yin.  seperti pengemudi kendaraan, dia menuntun dan mengarahkan tubuh yin dengan segala baik atau buruk; cacat atau kelebihan dari kapasitas dan fitur yang terdapat pada tubuh yin yang tersedia, menuju ke tempat idamannya dalam alam yang sesuai dengan keinginannya, menuaikan sebab akibat dari roh [yang] pribadi sendiri.

Tubuh kita, berasal datang dari tubuh ibu. Tubuh bersifat pra-lahir, setelah lahir, menjadi siklus sendiri yang merdeka sebagai paska lahir dari masing-masing individu.

Pra-lahir mewarisi faktor genetik dari ayah dan ibu. Tampak diluar adalah wajah, postur tubuh, golongan darah, DNA, dan berbagai kaitan pada kualitas fisik tubuh.

 Tanpa perkawinan dari ayah dan ibu yang mengandung dan peliharaan dalam kandungan bertumbuh hingga jadi bayi untuk dijadikan “jasad”, segala konsenterat yang tak akan mampu berkembang. Oleh karena itu dikatakan yang tak lahir tanpa yin. Seorang bayi setelah lahir mampu beraktivitas layaknya suatu kehidupan, adalah awal kehidupan dari berkat yang pada tubuh yin.  Maka dikatakan;  yin tak akan tumbuh tanpa yang.

Ketika persyaratan yin telah terpenuhi, maka yang akan menghampiri dan mengawininya. Adalah hukum alam, yang dan yin akan tarik menarik, selama keduanya dalam kondisi kondusif. Kolaborasi dari yin dengan yang, maka bayi sejauh ini akan tumbuh membesar. Tumbuh adalah tahap biologi mencapai tahap mateng. Setelah mateng, tubuh yin baru dapat mengembangkan  kapasitasnya sampai maksimum. Melengkapi siklus kehidupan seseorang.

Seumur hidup orang, hanyalah dua syarat ini, yaitu foktor pra-lahir,  dan syarat ruang dan waktu pada saat lahir— faktor paska lahir, menentukan orientasi hidup seseorang, dengan kedua syarat ini  terbagilah berbagai level, kaya maupun melarat.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Isian wajib ditandai *

Loading...